Apa pilihan terapi Gangguan Kepribadian Borderline yang efektif?
Ada banyak pilihan pengobatan untuk gangguan kepribadian ambang (GKA), tetapi sering kali sulit untuk mengetahui mana yang benar-benar efektif dan mana yang hanya memberikan efek plasebo (terapi yang terasa seperti pengobatan tetapi tidak memiliki dampak nyata). Tidak seperti beberapa gangguan kesehatan mental lainnya, GKA tidak dapat diobati hanya dengan terapi. Obat-obatan memang dapat mengurangi gejala kecemasan atau depresi yang sering menyertai GKA, tetapi tidak menyentuh akar permasalahan [1]. Di sini kami menjelaskan terapi berbasis bukti yang benar-benar efektif (dan kapan obat-obatan dapat membantu sebagai bagian dari rencana perawatan yang lebih luas).
Di Praktek Psikologi Barends kami menawarkan terapi online untuk Gangguan Kepribadian Borderline. Hubungi kami untuk menjadwalkan sesi online pertama yang gratis.
Langsung ke:
- Apa itu Gangguan Kepribadian Borderline?
- Penyebab BPD.
- Diagnosis BPD.
- Mengatasi BPD sendiri.
- Hidup dengan seseorang yang memiliki BPD.
- Tes Gangguan Kepribadian Borderline.
- Fakta menarik tentang BPD.
- Online konseling untuk BPD.
- Bawa saya ke beranda.
Perawatan Gangguan Kepribadian Borderline: 1. Terapi Berfokus Skema (SFT)
Terapi Berfokus Skema membantu seseorang mengenali dan mengubah pola pikir dan perilaku yang tidak sehat, yang disebut “skema”, yang biasanya terbentuk sejak dini dalam kehidupan. Misalnya, seseorang bisa sangat percaya: “Saya tidak layak dicintai” atau “Orang-orang selalu meninggalkan saya.” Keyakinan seperti ini memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain. Dalam terapi, klien belajar dari mana keyakinan ini berasal dan bagaimana menantangnya. Dengan bantuan imajinasi terbimbing, bermain peran, dan latihan nyata, seseorang mulai membentuk pandangan yang lebih seimbang terhadap diri sendiri dan orang lain. SFT terbukti secara signifikan meningkatkan fungsi jangka panjang dan mengurangi gejala GKA. Ini sangat efektif untuk orang-orang yang kesulitan mempercayai dan membuka diri secara emosional dalam terapi.
SFT juga membantu klien mengenali “mode” (keadaan emosional sementara seperti anak marah, pelindung yang menjauh, atau pengkritik batin). Dengan mengenali mode ini dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa belajar merespons secara berbeda. Misalnya, alih-alih meledak karena marah atau sepenuhnya menarik diri, klien bisa belajar menyampaikan kebutuhannya dengan tenang dan tegas. Pendekatan ini mendalam sekaligus praktis; ia menyasar akar penderitaan dan mengajarkan perilaku baru.
(Iklan. Untuk informasi lebih lanjut tentang perawatan gangguan kepribadian borderline, gulir ke bawah.)
Perawatan gangguan kepribadian borderline – 2. Terapi Perilaku Dialektis (DBT)
Terapi Perilaku Dialektis adalah salah satu perawatan yang paling banyak digunakan dan paling banyak diteliti untuk GKA. Terapi ini membantu seseorang menemukan keseimbangan antara dua hal yang berlawanan: menerima diri apa adanya, dan pada saat yang sama mengubah perilaku yang merusak. DBT mengajarkan keterampilan praktis dalam empat area: mengelola emosi, menghadapi stres, meningkatkan hubungan, dan tetap hadir lewat mindfulness. Sesi dilakukan secara individu maupun dalam kelompok, dan klien bisa mendapatkan dukungan tambahan di antara sesi. DBT sangat efektif untuk mengurangi perilaku melukai diri sendiri, pikiran bunuh diri, dan ledakan emosi. Dalam jangka panjang, terapi ini membantu klien membangun kehidupan yang lebih stabil, bermakna, dan dapat dijalani.
Yang membuat DBT menonjol adalah strukturnya yang jelas. Klien mengikuti alur yang sistematis, dengan sesi mingguan, pekerjaan rumah, dan latihan rutin. Misalnya, seseorang bisa belajar keterampilan “toleransi terhadap stres” seperti memegang es batu saat merasa kewalahan secara emosional, sebagai pengganti melukai diri. Alat-alat ini diajarkan langkah demi langkah, sehingga perubahan terasa dapat dicapai dan memperkuat rasa kendali diri. DBT sangat cocok untuk orang-orang yang ingin pendekatan langsung dan berbasis keterampilan.
Perawatan gangguan kepribadian borderline – 3. Terapi Berfokus Transferensi (TFP)
Terapi Berfokus Transferensi memusatkan perhatian pada bagaimana pola hubungan masa lalu muncul kembali dalam hubungan saat ini, termasuk dalam hubungan antara klien dan terapis. Misalnya, jika seseorang selalu mengharapkan orang lain akan menyakitinya atau meninggalkannya, perasaan seperti itu juga bisa muncul dalam terapi. Alih-alih menghindari atau mengecilkan reaksi ini, TFP menggunakannya sebagai peluang untuk tumbuh. Terapis membantu klien menjelajahi dan memahami perasaan-perasaan ini dalam lingkungan yang aman, sehingga klien dapat mengembangkan rasa diri yang lebih stabil dan terintegrasi. TFP sering kali menghasilkan wawasan emosional yang lebih dalam dan membantu klien menjalin hubungan yang lebih sehat dan realistis.
Dalam TFP, emosi yang muncul dalam hubungan terapi dibahas secara rinci. Hal ini memungkinkan terapis dan klien untuk bekerja sama dalam mengenali pola-pola seperti berpikir hitam-putih atau rasa takut ditolak. Misalnya, jika klien tiba-tiba merasa bahwa terapis “membencinya”, mereka akan mengeksplorasi perasaan tersebut bersama-sama—asal-usulnya, sejauh mana itu nyata, dan apa yang memicunya. Seiring waktu, ini membantu klien memproses trauma yang belum terselesaikan, mengurangi reaktivitas emosional, dan mengalami hubungan secara lebih stabil dan memuaskan.
Peran Obat-Obatan dalam Pengobatan GKA – perawatan gangguan kepribadian borderline
Meskipun tidak ada obat yang bisa menyembuhkan GKA, psikiater sering meresepkan obat untuk mengurangi gejala kecemasan atau depresi—yang pada gilirannya dapat meningkatkan efektivitas terapi. Sekitar dua pertiga orang dengan GKA menggunakan antidepresan, sementara sebagian lainnya mendapat manfaat dari penstabil suasana hati atau antipsikotik [4]. Obat-obatan paling efektif jika dikombinasikan dengan terapi berbasis bukti seperti SFT, DBT, atau TFP.
(Iklan. Untuk informasi lebih lanjut tentang perawatan gangguan kepribadian borderline, gulir ke bawah.)
Literatur tentang perawatan gangguan kepribadian borderline:
12-month, randomised clinical trial in The Netherlands. The British Journal of Psychiatry, 182, 135-140.

